Kamis, 25 Desember 2014

Tanpa Diliput Media, Bersama FPI dan PKS dokter Indonesia "Sikat Habis" Daerah Bencana Alam

Sungguh keterlaluan media di negeri tercinta kita ini, saat dokter Indonesia melakukan aksi tafakur bersama 27 November 2013 silam. Maka dokter Indonesia dengan serangan bertubi-tubi menjadi bulan-bulanan media di negeri Indonesia secara ekstrem. Netizen di dunia maya juga tidak ada habis-habisnya membesar-besarkan masalah yang akhirnya tidak terbukti berdasarkan putusan banding di tingkat Mahkamah Agung. Beragam masalah malpraktik tentunya telah terselesaikan di Majelis Etik yang banyak menghukum para dokter malpraktik sebut saja dokter yang melakukan aborsi ilegal tanpa indikasi medis.

Ikhlas, Dokter Indonesia Bersatu di daerah bencana alam
Ketika para dokter berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik semisal epidemiologi kasus demam berdarah yang telah diakui dunia, flu burung, ebola, polio, media seakan kurang menarik meliputnya, mereka seolah diam akan nilai komersial yang menjadi prioritas untuk rating dan "pesanan" politik tertentu.

Begitupula dengan partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki reputasi sangat baik dengan angka korupsi yang minimalis dibandingkan partai lain pun dibesar-besarkan dengan adanya seorang yang masih berencana atau dalam proses menuju korupsi tapi belum, namun telah tertuduh dan dijatuhkan. Alumnikedokteranumm.com bukan simpatisan partai atau pendukung perpolitikan tertentu, namun ketika melihat sesuatu yang tidak objektif maka dengan semboyan fastabiqul khoirot kebenaran itu harus diungkapkan.

Apakah persamaan PKS, FPI (Front Pembela Islam), dan Dokter Indonesia ?
Sudah jelas komoditas komersial mereka sangat tinggi. alumnikedokteranumm.com memantau perkembangan dari Habib Rizieq yang selalu dituduhkan dibalik aksi anarkis anggotanya ternyata sangat lembut, beberapa media tidak pernah meliput atau meliput dengan memiringkan berita menjadi 180 derajat. Sebut saja kasus pluit dimana para pendatang yang mendominasi dan membangun tempat maksiat di daerah tersebut yang sejatinya ditolak masyarakat sekitar telah dipantau oleh FPI selama dua tahun. Dan selama dua tahun itulah FPI mengirimkan surat kepada para petinggi tanah air yang tidak diindahkan termasuk kepada Kepolisian. Akhirnya dengan mengundang wartawan selepas subuh Habib Rizieq yang melarang anggota laskar membawa senjata tajam dengan tangan kosong menggerebek tempat laknat tersebut. Di tempat itu ratusan preman bersenjata termasuk senjata api, hampir membunuh mereka. Bukan masyarakat, catat, mereka adalah preman pendatang. Hingga siang sudut kamera wartawan tidak menyorot saat laskar ditembaki dan dipukuli preman, dengan izin Allah tempat itu berhasil dikuasai laskar. 

Tidak diliput media

Kebersamaan: sekali lagi tidak diliput media
Siang hari berita di TV menyebutkan bentrokan FPI dengan masyarakat. Kata masyarakat sama sekali mengaburkan semuanya. benar-benar media yang menyesatkan.

Kembali pada pemantauan alumnikedokteranumm.com di tempat lokasi bencana alam seperti tanah longsor, letusan gunung berapi, banjir. Dokter Indonesia selalu berada bersama mereka sehingga seragam mereka nampak mencolok ketika disorot kamera, namun kamera tidak pernah menyorot mereka dan mengambil sudut lain.Usut punya usut, pimpinan redaksi melarang mereka dengan alasan FPI, PKS ataupun dokter Indonesia tidak membayar mereka, duh, semoga balasan Allah ada pada kita, lakukanlah semuanya dengan ikhlas. (dkn)


Baca Juga :



Share This Article


Sebarkan !

0 komentar:

Setujukah anda dengan "dokter Layanan Primer"(DLP) ?