Senin, 08 Desember 2014

Sepotong Kue Pukis Untuk Nona

Kisah pendek yang ditulis oleh Muse ini merupakan cerita yang dapat terjadi dalam renungan sehari-hari. Sebenarnya ini adalah cerpen dari majalah volks medico tahun 2008 tetapi tetap masih asyik untuk kita renungkan makna dari pelajarannya. Selamat membaca ... !


Tim Volk's Medico 2008, diantaranya menulis cerita ini
Pada suatu hari Lina seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi terkemuka di Malang hendak pulang “kampung” ke Jakarta, dia berencana mudik merayakan kelulusan Cumlaude-nya menggunakan kereta api Gajayana dari stasiun Kota Baru, seperti budaya angkutan umum di Indonesia kali ini Lina harus kecewa lantaran kereta yang ditumpanginya mengalami penundaan cukup lama, kurang lebih selama 2 jam, “lagi terjebak macet” alasan tidak rasional dari petugas stasiun mencoba mencari pembenaran perihal keterlambatan kedatangan kereta, sebal menunggu lama Lina akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa potong kue pukis kegemarannya di PKL depan stasiun, ”lumayan bisa jadi teman baca novel” pikirnya.

Usai membeli beberapa potong kue pukis Lina bergegas kembali menuju ruang tunggu stasiun, dia lalu duduk disalah satu deret bangku disudut stasiun, ditempat yang sepi itu Lina tidak sendiri tetapi bersama seorang pria, lelaki separuh baya yang rambutnya sudah tampak memutih, gurat kerasnya kehidupan terlihat jelas memahat wajah keriput pria tua itu, jika menatap agak kebawah teronggok kain penutup tubuh yang banyak berhiaskan lambang KORPRI model baju yang tentu sudah tidak jaman lagi seiring lengsernya kekuasaan Orde Baru. Satu – satunya hal menarik dari pria itu ialah senyumnya, selalu terkembang senyuman manis tiap kali Lina menoleh untuk sejenak melepas lelah dari kegiatan membaca, “bapak yang baik pikir Lina” sambil melanjutkan bacaan novel Ayat –Ayat Cinta yang sudah sampai pada fase menegangkan.

Satu jam berlalu Lina pun merasa lapar diambilnya sepotong kue pukis yang dari tadi tegeletak lemas dibangku sebelah menunggu untuk disantap, tetapi sungguh terkejut tak percaya, saat Lina usai mengambil sepotong kue pukis pria tadi menyusul tindakan Lina, diambilnya sepotong kue pukis dari tempat yang sama, satu hal yang tersisa dari pria itu lagi – lagi hanya senyum saat Lina memandang dengan penuh heran tindakan pria itu, “tanpa terima kasih” pikir Lina heran, tetapi Lina masih mampu untuk bersabar, dilanjutkannya membaca novel yang tinggal beberapa lembar itu, pada ambilan kedua dan seterusnya Lina semakin heran dengan sikap pria tua yang selalu ikut mengambil kue pukis kesukaannya, harap dicatat tanpa sekalipun ucapan “TERIMA KASIH!!” itu yang membuatnya tidak habis pikir, pada potongan terakhir Lina benar – benar kehabisan kesabaran apalagi setelah mendengar perkataan pria tua tadi, ”yang satu ini buat nona saja” sambil tersenyum (lagi –lagi..), senyuman yang sudah tidak tampak manis tentunya dimata Lina, akhir kata keluarlah celoteh khas negara berkembang dari bibir Lina “ dasar GILA, kalau mau makan beli dong, jangan Cuma senyum!!” umpat Lina sambil ngelonyor pergi meninggalkan pria sinting itu. 

Ilustrasi Pukis
Menjelang waktu keberangkatan Lina sudah nyaman duduk didalam kereta api tetapi hatinya masih sangat dongkol bila mengingat kejadian barusan, bagaimana mungkin dia bisa bertemu pria aneh seperti itu “amit – amit jabang bayi deh..” doa Lina khusyuk dalam hati, tiba – tiba, “kring..,kring” bunyi HP Lina memecah lamunannya, dibukanya tas jinjing merk Roxy dengan lincah, WHATZZZZZZ., teriak Lina sejadi – jadinya seperti tukang parkir kehilangan beberapa lembar uang ribuan, saat membuka tas warna hijau dongker itu, terlihat menyembul sebuah bungkusan kecil yang warna serta konturnya sudah sangat dikenalnya, “yuuups… sebungkus kue pukis!!”, lemaslah tubuh Lina meratapi kejadian ini tanpa sadar menetes air mata menelusuri lesung pipit wanita berparas ayu itu, “mengapa?” katanya lirih tanpa mampu menjawab pertanyaanya sendiri. Akhirnya kereta pun berlalu menuju ibu kota meninggalkan stasiun kota baru, melaju kencang diiringi hujan rintik serta tetes air mata penyesalan Lina, entah kapan kata maaf akan mampu terucap untuk bapak tua pemilik kue pukis.

Dalam hidup kadang mudah bagi kita untuk melihat kekurangan orang lain, menghakimi dan menganggap diri sendiri yang paling benar, tanpa sadar kitalah si pencuri kue pukis, kitalah orang yang tidak tahu cara berterima kasih, ketika ego sudah memuncak ketika emosi menjadi landasan, bersiaplah untuk menjadi Lina berikutnya, jangan biarkan dirimu menyesal akan kesalahan – kesalahan yang sedianya bisa dihindari. Tersenyumlah sobat karena senyummu adalah ibadah, cahaya yang mampu tentramkan hati dan hilangkan  segala prasangka.(Muse)


Nah kirimkan cerita anda ke alumni.fkumm@gmail.com

Baca Juga :

BBM Naik Biaya Kesehatan Meningkat, Premi BPJS naik 43,5%
Menuju Universal Health Coverage 2019, Dokter Layanan Primer Tetap Dibutuhkan
Indonesia Untold : Penemu Konsep Makanan Kemasan Steril dari Indonesia



.
Share This Article


Sebarkan !

0 komentar:

Setujukah anda dengan "dokter Layanan Primer"(DLP) ?