Sabtu, 06 Desember 2014

dr. Anis : "Rokok ELektrik Justru Lebih Berbahaya Bagi Kesehatan !"

"E-Health Cigarette", begitulah tulisan kemasannya. Dengan melihat kemasannya alat penghisap tembakau ini seolah ingin menyampaikan bahwa dirinya bersahabat dan pantas menggantikan rokok konvensional yang selama ini sudah berbaur di masyarakat. Bagi perokok berat, merokok merupakan kebutuhan sehari-hari yang bersifat primer dan mutlak harus dilakukan setiap ada kesempatan dalam keseharian. Orang yang sudah terlampau candu akan asap bernikotin ini tentunya tidak akan lepas begitu saja dengan mudahnya ketika diminta untuk berhenti merokok meski permintaan itu datangnya dari orang yang disayangi sekalipun.

dr. Anis

Kontroversial, Rokok elektrik dan Charger
Sesuai dengan namanya elektrik sigaret merupakan produk elektronik berupa rokok yang digembar-gemborkan aman karena menggunakan baterai dan uap nikotin tanpa menggunakan asap dalam menghasilkan uap nikotin. Bahkan yang menyesatkan beberapa produsen secara sewenang-wenang menuliskan 99,99% aman untuk tubuh kita dan ramah lingkungan. Suatu angka persentasi ngawur yang tidak melalui verifikasi penelitian ilmiah sebelumnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral baik secara hukum maupun pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.

Cara kerjanya dengan melarutkan nikotin menjadi nikotin cair yang siap diuapkan. Dalam beberapa penelitian terakhir ditemukan nikotin yang terlarut menggunakan senyawa propilen dieter glikol dan gliserin adalah bersifat neurotoksik yang mengancam susunan syaraf pusat (SSP), apalagi saat terhisap dan terserap tubuh maka sifat karsinogen pemicu kerusakan sel semakin besar, akibatnya justru dapat menjadi beresiko terkena kanker paru-paru.

COPD Day Sabtu (7/12/14)
Saat ditemui alumnikedokteranumm.com di sebuah seminar tentang COPD atau Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dr. Nur Anisa yang merupakan anggota AKU dan panitia acara seminar membenarkan hal tersebut.Saat diminta keterangan lebih lanjut dr. Anis sapaan akrabnya hanya bisa mengangguk pelan karena terburu-buru sebagai panitia dan berjanji akan menyampaikannya pada Profesor Amin yang merupakan Narasumber untuk membahasnya. Sebagaimana diketahui sebelumnya tanggal 6 Desember 2014 bertempat di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang diadakan pertemuan para dokter sekaligus seminar memperingati COPD Day. Narasumber yang didatangkan yaitu Prof. DR. dr. M. Amin, Sp.P (K), yang menerangkan dengan detail bahaya merokok hingga penggunaan rokok elektrik.

Seorang anggota AKU lainnya yang juga staf pengajar UMM dr. Annisa Hasanah menambahkan seorang sumber dari testimonial pengguna rokok elektrik sampai terkena  cedera pada mulut. " ... Dan menyebabkan mouth electrical injury alias lambe (mulut) gosong kesetrum ... " Kata beliau pada alumnikedokteranumm.com. 

Kontroversial, bentuk yang manis
Setelah beberapa lama kemudian dr. Anis menegaskan kembali bahwa rokok elektrik justru benar-benar lebih berbahaya."Tadi sudah dengar kan ?, rokok elekronik  menyebabkan resiko kanker paru dan COPD dua kali lebih besar dibanding rokok biasa, karena kadar nikotinnya lebih besar ..." Ujarnya dengan serius kepada alumnikedokteranumm.com.

"Jadi teman sejawat yang merokok hati-hati tuu ... " Kata dr. Dina yang juga senior AKU menambahkan.

Baca Juga :

BBM Naik Biaya Kesehatan Meningkat, Premi BPJS naik 43,5%
Menuju Universal Health Coverage 2019, Dokter Layanan Primer Tetap Dibutuhkan
Indonesia Untold : Penemu Konsep Makanan Kemasan Steril dari Indonesia



Share This Article


Sebarkan !

2 komentar:

Nur Annisa mengatakan...

Copd as a silent killer..not only hypertension lohh bro..beware all of u heyy smokers...#aq ky wong gualak ya...hahahaha...tp iya pancen ngomel klo ada yg rokok'an..

Alumni Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan...

Benar sekali mbak dokter Anis, perlu diusulkan dicantumkan dalil dari Perhimpunan dokter Paru di bungkus rokok ya mbak.

Setujukah anda dengan "dokter Layanan Primer"(DLP) ?